Oh, jadi kamu ingin jadi influencer? Bukan karena punya bakat, passion, atau bahkan sesuatu yang menarik untuk dibagikan, tapi karena lihat orang lain beli mobil dari endorse? Well, selamat datang di klub—tempat di mana orang-orang dengan follower lebih banyak dari IQ-nya berkumpul. Tapi jangan khawatir, karena di sini kita akan bahas cara jadi influencer gadungan yang bisa bikin algoritma terpesona, meski teman-temanmu sudah muak melihat wajahmu di timeline.
Langkah 1: Pilih Niche yang Tidak Ada Orang Lain Peduli (Tapi Algoritma Suka)
Lupakan tentang hobi atau keahlianmu. Kalau kamu bisa memasak, jangan jadi chef influencer—itu terlalu mainstream. Lebih baik pilih niche absurd seperti “review sendok plastik” atau “unboxing kertas HVS”. Kenapa? Karena algoritma tidak peduli apakah kontenmu berguna atau tidak, yang penting kamu konsisten. Dan siapa tahu, mungkin ada satu-dua orang di luar sana yang benar-benar butuh tahu apakah sendok plastik merek A lebih kuat dari merek B.
Tips Bonus: Gunakan Kata Kunci yang Membuatmu Terlihat Pintar
Jangan lupa sematkan kata-kata seperti “sustainable”, “minimalist”, atau “curated” di setiap caption. Misalnya: “Hari ini aku mau review sendok plastik yang sustainable dan curated banget buat lifestyle minimalist kamu.” Boom. Sekarang kamu terdengar seperti ahli, padahal kamu cuma ngomongin sendok plastik.
Langkah 2: Posting di Jam yang Tepat (Atau Setidaknya Jam yang Kamu Ingat)
Algoritma itu seperti pacar yang insecure—harus selalu diperhatikan. Jadi, kamu harus tahu kapan waktu terbaik untuk posting. Tapi jangan khawatir, tidak perlu riset mendalam. Cukup lihat jam-jam ketika kamu sendiri sedang scroll Instagram sambil pura-pura kerja. Biasanya itu jam 9 pagi (saat orang malas buka laptop), jam 12 siang (saat orang lapar tapi belum mau makan), dan jam 9 malam (saat orang bosan dan butuh pelarian).
Trik Jitu: Gunakan Scheduler (Atau Lupakan)
Kalau kamu tipe orang yang lupa makan, apalagi posting, gunakan tools seperti Later atau Buffer. Tapi kalau kamu lebih suka hidup di tepi jurang, ya sudah, posting saja kapan pun moodmu sedang baik. Yang penting, jangan sampai follower-mu lupa kamu ada. Karena di dunia ini, lebih baik dibenci daripada dilupakan.
Langkah 3: Engagement Palsu, Hati Asli (Tapi Hati yang Mana?)
Engagement itu penting, tapi jangan harap orang-orang akan like dan komen dengan sukarela. Kamu harus memancing mereka. Caranya? Mudah. Tanyakan hal-hal yang tidak perlu jawaban serius, seperti “Siapa yang setuju kalau kopi susu lebih enak dari kopi hitam? Like = setuju, komen = tidak setuju.” Atau, “Siapa yang mau aku follow back? Komen ‘ayo’ di bawah!” Dengan begitu, kamu bisa dapat engagement tanpa perlu repot-repot bikin konten yang berkualitas.
Bonus: Beli Follower (Atau Jangan, Terserah)
Kalau kamu benar-benar putus asa, ada kok jasa beli follower. Harganya murah, dan efeknya langsung terasa—kamu bisa jadi “influencer” dalam semalam! Tapi hati-hati, follower palsu itu seperti pacar palsu: mereka tidak akan pernah benar-benar peduli padamu. Mereka cuma angka di profilmu, dan angka itu tidak akan pernah beli produk yang kamu endorse.
Langkah 4: Endorse Apa Saja, Asal Ada Uangnya
Inilah momen yang kamu tunggu-tunggu: monetisasi. Tapi jangan harap brand-brand besar akan langsung menghubungimu. Kamu harus mulai dari yang kecil dulu, seperti endorse minyak goreng yang harganya lebih mahal dari minyak zaitun. Atau, kalau kamu berani, endorse produk yang bahkan kamu sendiri tidak tahu apa fungsinya. Yang penting, kamu dapat uang, dan follower-mu bisa menikmati konten “berguna” dari kamu.
Trik: Buat Testimoni yang Over-the-Top
Jangan cuma bilang “produk ini bagus”, tapi bilang “produk ini mengubah hidupku!”. Misalnya: “Sejak pakai sampo ini, rambutku jadi lebih tebal, pacarku balik lagi, dan aku menang undian.” Semakin dramatis, semakin bagus. Orang-orang suka drama, dan brand suka testimoni yang bisa mereka pakai untuk marketing.
Langkah 5: Abaikan Kritik, Fokus pada Like
Kritik itu seperti hujan—tidak enak, tapi pasti datang. Kalau ada yang bilang kontenmu tidak berguna, abaikan saja. Atau, lebih baik lagi, balas dengan “Kamu cuma haters yang iri.” Dengan begitu, kamu terlihat kuat, dan follower-mu akan semakin percaya bahwa kamu memang layak diikuti. Lagipula, siapa peduli dengan kualitas, kalau kamu bisa dapat like dan uang?
Jadi, itulah cara jadi influencer gadungan yang bisa bikin algoritma terpesona dan teman-temanmu muak. Tapi ingat, di balik semua like dan endorse, ada satu hal yang tidak bisa kamu beli: rasa hormat. Tapi siapa peduli, kan? Yang penting, kamu bisa beli tas branded dan pamer di Instagram. Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, kamu bisa jadi influencer yang benar-benar berpengaruh—atau setidaknya, jadi influencer yang punya lebih banyak follower daripada teman di dunia nyata.
